Soppeng: Tanah yang Dijahit Keberagaman Kerukunan Islam dan Kristen dalam Bingkai Kearifan Bugis (1950–2007)
Keywords:
sejarah, peradaban, SoppengSynopsis
Buku ini mengkaji secara mendalam dinamika kerukunan antara umat Islam dan Kristen di Kabupaten Soppeng dalam rentang waktu 1950–2007, dengan menempatkan kearifan lokal Bugis sebagai bingkai utama analisis. Di tengah berbagai narasi konflik berlatar agama yang mewarnai sejarah Indonesia modern, Soppeng justru tampil sebagai anomali sosial yang menunjukkan keberlanjutan harmoni lintas iman secara konsisten. Melalui pendekatan historis-sosiologis yang diperkaya perspektif antropologi budaya dan teologi perbandingan, buku ini menelusuri bagaimana nilai-nilai siri’, pacce, ade’, sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge’ berfungsi sebagai mekanisme sosial yang efektif dalam merawat toleransi. Data diperoleh melalui kajian arsip, wawancara, observasi lapangan, serta analisis naratif atas praktik sosial keseharian masyarakat. Temuan utama menunjukkan bahwa toleransi di Soppeng tidak bertumpu pada regulasi formal semata, melainkan tumbuh dari integrasi ajaran agama dan budaya lokal yang memuliakan kemanusiaan. Buku ini juga mengidentifikasi enam fase perkembangan toleransi yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Soppeng mampu beradaptasi terhadap perubahan politik, sosial, dan ekonomi tanpa kehilangan kohesi sosialnya. Dengan demikian, Soppeng tidak hanya menjadi contoh lokal kerukunan antaragama, tetapi juga menawarkan model alternatif bagi pengelolaan keberagaman berbasis kearifan budaya yang relevan bagi Indonesia dan masyarakat multikultural secara global.

