Soppeng Tanah yang Dijahit Keberagaman
Keywords:
Keberagaman, Kearifan Lokal Bugis, Kerukunan Antarumat Beragama, SoppengSynopsis
Buku Soppeng Tanah yang Dijahit Keberagaman menghadirkan potret hidup kerukunan Islam dan Kristen di Kabupaten Soppeng, sebuah wilayah Bugis yang menjadikan keberagaman sebagai bagian alami dari denyut kehidupan sosialnya. Melalui bingkai kearifan lokal Bugis seperti siri’ (kehormatan), pacce (empati), dan ade’ (adat), masyarakat Soppeng berhasil membangun ruang sosial yang inklusif, di mana perbedaan agama tidak melahirkan jarak, melainkan menjadi jembatan untuk saling mengenal, bekerja sama, dan hidup berdampingan.
Buku ini menelusuri perjalanan sejarah panjang kerukunan tersebut sejak masa kerajaan hingga era Reformasi, memperlihatkan bagaimana Soppeng mampu mempertahankan harmoni di tengah berbagai konflik keagamaan yang pernah melanda daerah lain di Indonesia. Melalui kisah-kisah keseharian dari pasar tradisional, acara adat, gotong royong membangun rumah ibadah, hingga solidaritas dalam momen duka, toleransi tampil bukan sebagai hasil rekayasa kebijakan, melainkan sebagai praktik sosial yang tumbuh secara organik dari bawah.
Lebih dari sekadar catatan sejarah, buku ini mengungkap kekuatan budaya lokal sebagai fondasi perdamaian, yang menekankan empati, kehormatan, dan solidaritas sebagai nilai hidup bersama. Dengan pendekatan interdisipliner yang memadukan sejarah, antropologi, teologi, dan sosiologi agama, karya ini menjadi rujukan penting bagi akademisi, pendidik, pemangku kebijakan, serta siapa pun yang peduli pada masa depan kerukunan bangsa.

