Ortodoksi Vs Heterodoksi Ahl al-Ḥadīth dan Peran Penguasa serta Implikasinya terhadap Rijāl al-Ḥadīth Pada Peristiwa Miḥnah
Synopsis
Buku Ortodoksi Vs Heterodoksi menghadirkan sebuah kajian mendalam tentang salah satu episode paling krusial dalam sejarah intelektual Islam: Peristiwa Mihnah. Melalui riset historis-kritis yang kaya data dan analisis teoretik, penulis menelusuri bagaimana ketegangan antara Ahl al-Hadith dan penguasa Abbasiyah, khususnya Khalifah al-Ma’mun, bukan sekadar perdebatan teologis tentang khalq al-Qur’an, tetapi juga pertarungan legitimasi, kewenangan epistemik, dan hegemoni politik.
Buku ini menunjukkan bahwa ortodoksi tidak hanya lahir dari teks dan tradisi, tetapi juga dari habitus masyarakat, struktur kekuasaan, dan strategi hegemonik yang bekerja di balik produksi pengetahuan agama. Dengan memanfaatkan teori Pierre Bourdieu tentang habitus dan medan sosial, teori Michel Foucault tentang relasi power/knowledge, serta gagasan Antonio Gramsci tentang hegemoni, penulis menguraikan bagaimana otoritas keagamaan dan otoritas politik saling mempengaruhi dan saling merebut ruang kebenaran.
Pada bagian historisnya, buku ini mengungkap dinamika sosial politik pada masa Abbasiyah, termasuk konflik geopolitik Baghdad dan Khurasan, genealogis teologis antara Ahl al-Hadith dan kelompok rasionalis, serta ketegangan antargenerasi antara ulama senior dan ulama muda. Data biografis rijal al-hadith—termasuk korban miḥnah—disajikan secara teliti dan kritis, menyingkap bagaimana tekanan politik mempengaruhi persepsi terhadap kredibilitas para periwayat hadis.
Melalui pembacaan ulang terhadap dinamika ortodoksi dan heterodoksi dalam Islam, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa ortodoksi bukanlah kategori statis, melainkan hasil negosiasi panjang antara tradisi, kekuasaan, dan kepentingan politik. Buku ini penting bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan siapa pun yang ingin memahami bagaimana ilmu agama dibentuk, dipertahankan, dan dipertaruhkan dalam lanskap sejarah Islam.

